Berbagi Informasi

Ghibah Yang Diperbolehkan

Ghibah Yang Diperbolehkan

Seperti yang kita ketahui bahwa ghibah atau bergunjing sangat dilarang dalam agama Islam. Walaupun demikian ada beberapa kondisi yang diperbolehkan untuk ghibah. Berikut informasi yang tertulis dalam buku “Bahan Renungan Kalbu” karya Ir. Permadi Alibasyah, halaman 204:
--------------------------------------------------------------------
Menurut “Al Qur’an dan Tafsirnya” keluaran Universitas Islam Indonesia (1991) Jilid IX halaman 439-440, bergunjing atau ghibah itu tidak diharamkan jika disertai dengan maksud-maksud yang baik (yang tidak bisa tercapai kecuali dengan ghibah itu). Ada 6 perkara dimana tidak diharamkan bergunjing, yaitu:

1. Dalam rangka kezaliman, agar supaya dapat dibela oleh seorang yang mampu menghilangkan kezaliman itu.
2. Jika dijadikan bahan untuk merubah sesuatu kemungkaran dengan menyebut-nyebut kejelekan seseorang kepada penguasa yang mampu mengadakan tindakan perbaikan.
3. Di dalam mahkamah, seorang yang mengajukan perkara boleh melaporkan kepada mufti atau hakim bahwa ia telah dianiaya oleh seorang penguasa yang (sebenarnya) mampu mengadakan tindakan perbaikan.
4. Memberi peringatan kepada kaum Muslimin tentang suatu kejahatan atau bahaya yang mungkin akan mengenai seseorang; misalnya menuduh saksi-saksi tidak adil, atau memperingatkan seseorang yang akan melangsungkan pernikahan bahwa calon pengantinnya adalah seseorang yang mempunyai cacat budi pekertinya, atau mempunyai penyakit yang menular.
5. Bila orang yang diumpat itu terang-terangan melakukan dosa di muka umum.
6. Mengenalkan seseorang dengan sebutan yang kurang baik, seperti a’war (orang yang matanya buta sebelah) jika tidak mungkin memperkenalkannya kecuali dengan nama itu.
--------------------------------------------------------------------


Membaca 6 perkara atau situasi yang memperbolehkan ghibah diatas mungkin sedikit agak membingungkan. Mari kita perjelas poin per poin.
1. Apabila ada suatu kezaliman, maka kita diperbolehkan untuk berghibah atau menggunjingkan kezaliman tersebut dengan harapan ada orang yang mampu atau bisa menghilangkan kezaliman tersebut.
2. Kita dibolehkan untuk melakukan ghibah atau menggunjingkan seseorang yang melakukan kemungkaran. Yang mana ghibah ini kita utarakan kepada penguasa karena penguasa ini mempunyai kekuatan atau kekuasaan untuk memperbaiki situasi atau kondisi.
3. Di dalam suatu pengadilan, diperbolehkan menggunjingkan seorang penguasa kepada hakim, yang mana penguasa ini sebenarnya mampu melakukan perbaikan situasi seseorang tapi tidak melakukannya, dalam hal ini penguasa tersebut telah melakukan aniaya terhadap seseorang.
4. Diperbolehkan melakukan ghibah dengan tujuan untuk memberi informasi atau peringatan kepada kaum Muslim bahwa ada bahaya atau kejahatan yang mungkin akan menimpa seseorang.
5. Bila ada orang yang terang-terangan melakukan dosa di depan umum, maka kita diperbolehkan melakukan ghibah terhadap orang tersebut.
6. Kalau poin yang ini lebih spesifik ke arah sifat atau kondisi seseorang pada saat memperkenalkan orang ini ke orang lain. Kita diperbolehkan untuk menyebut orang ini dengan sesuatu yang kurang baik dengan catatan atau alasan hanya dengan menggunakan sebutan ini maka orang tersebut bisa diperkenalkan. Tapi dimasa sekarang situasi yang seperti ini biasanya diakali dengan menyebut hal-hal seperti; yang tinggal disini, yang pernah bekerja disini, temannya si ini, yang kuliah di sini, dan lain-lain.

Demikianlah beberapa situasi yang diperbolehkan untuk melakukan ghibah. Semoga Allah SWT selalu menjauhkan kita dari kebiasaan ghibah.

Baca : Bahaya Ghibah

No comments:

Post a Comment