Berbagi Informasi

Jangan Kaget, 2 Hal Inilah Penyebab Utama Macet Di Jakarta


Melihat kondisi jalan di Jakarta yang selalu padat dari hari ke hari membuat kita berpikir; ini macet kapan berakhirnya? Dan setiap hari kita selalu berpikir dengan hal yang sama tentang kemacetan ini. Tenang, anda tidak sendiri dan bukan satu-satunya orang yang mengalami macet di jalan. Yang lebih lucu lagi adalah orang - orang yang mengalami macet ini seperti tidak pernah kapok menghadapi macet. Setiap pagi dan sore orang selalu berlomba-lomba untuk mengalahkan macet :-)

Untuk masyarakat Jakarta, macet menjadi makanan sehari - hari. Tingkat kemacetannya pun bervariasi, dari macet yang sifatnya ringan hingga macet yang sangat parah luar biasa alias kecepatan kendaraan rata - rata 1 Km/Jam. Walaupun demikian tahukah anda bahwa penyebab macet sebenarnya bisa berasal dari anda sendiri? Mari kita lihat dua hal penyebab utama macet di Jakarta.

1. Jumlah Kendaraan Sangat Berlebihan

Di Jakarta, ketika melihat kendaraan di jalan raya saat situasi macet, anda pasti pusing melihat begitu banyaknya jumlah kendaraan tersebut. Anda bahkan kaget sendiri kapan habisnya kendaraan ini. Kendaraan yang keluar masuk di jalan - jalan Jakarta bukan hanya berasal dari Jakarta sendiri tetapi juga dari luar Jakarta seperti Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor, dan lain - lain.

Pertanyannya, kenapa jumlah kendaraan bisa sangat membludak di Jakarta?

Ada banyak faktor untuk jawaban pertanyaan ini. Tetapi alasan yang paling utama yaitu karena gampangnya masyarakat memperoleh atau membeli kendaraan melalui kredit kepemilikan kendaraan. Saat ini di Jakarta dengan DP 500 ribu sudah bisa mendapatkan kendaraan bermotor. Kemudian dengan DP 5 juta hingga 10 juta sudah dapat memiliki mobil sendiri. Pihak dealer kendaraan pun memberikan kemudahan untuk proses kepemilikan kendaraan ini.

Jadi bagaimana bisa berharap Jakarta bisa berkurang macetnya jika di sisi lain jumlah kendaraan yang berseliweran di jalan raya semakin banyak dan bertambah setiap hari. Bayangkan jika satu orang membawa satu mobil sendiri. Jika asumsi 20 orang membawa mobil masing - masing, berarti dalam area barisan 20 mobil di jalan raya hanya di isi oleh 20 orang tersebut, sedangkan bila 20 orang ini berada dalam satu kendaraan maka mereka bisa diangkut dengan kendaraan umum dengan menggunakan bis.

Jadi jangan langsung menyalahkan pemerintah yang tidak becus mengurus macet. Penyebab macet yang sebenarnya adalah anda sendiri, yang membawa mobil. Kita fokus pada mobil sebagai penyebab macet karena memang penyebab jalan sempit disebabkan oleh badan mobil yang terlalu banyak mengambil ruang atau area jalan raya. Kendaraan roda dua atau motor walaupun macet tetap bisa jalan walaupun pelan - pelan karena ukurannya kecil dan bisa melewati sisi - sisi samping mobil.

Kebanyakan orang di Jabodetabek membeli kendaraan lebih karena faktor gengsi, khususnya yang membeli mobil. Entah kendaraan mereka dibeli dengan cara tunai atau kredit. Yang penting di dalam pikiran mereka adalah gaya! Pake mobil ke kantor ga perduli apakah macetnya parah atau tidak. Makanya jangan heran sekarang jalan tol sudah tidak seperti jalan tol yang seharusnya. Jalan tol zaman sekarang malah lebih macet dari pada jalan biasa.


2. Jumlah Penduduk Jabodetabek Berlebihan

Selain jumlah kendaraan yang membludak, hal lain yang menjadi penyebab utama macet di Jakarta yaitu membengkaknya jumlah penghuni Jabodetabek. Masyarakat Jabodetabek adalah penyebab utama macet di Jakarta. Merekalah yang menyebabkan kemacetan di Jakarta susah di atasi.

Setiap hari masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang berbondong - bondong membanjiri jalan - jalan di Jakarta dengan kendaraan mereka. Jika hanya orang asli Jabodetabek yang mendiami Jabodetabek, maka di jamin sebenarnya tidak akan separah ini macet yang kita lihat setiap hari.

Jadi, dari mana sebenarnya manusia - manusia yang mendiami Jabodetabek sekarang?
Jawabannya adalah dari Kampus dan Kampung.

Setiap freshgraduate atau lulusan baru perguruan tinggi umumnya akan ke Jakarta untuk mengadu nasib. Hal ini disebabkan karena susahnya mencari pekerjaan di daerah tempat kuliah mereka atau di kampung halaman mereka masing-masing. Dari pada susah - susah mencari pekerjaan di luar Jakarta maka mereka umumnya akan secepat mungkin ke Jakarta. Istilahnya jemput bola. Silahkan hitung berapa jumlah perguruan tinggi di Indonesia. Kalau tidak mau pusing, coba hitung 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Biasanya lulusan freshraduate ini akan ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang menantang dan gaji yang menarik. Awalnya hanya bekerja sambil nge-kost. Setelah lama kelamaan mulai menabung dan mulai betah dengan pekerjaannya di Jakarta. Kemudian mulai berkeluarga dan membeli rumah di Jakarta atau sekitar Jakarta. Dari sinilah awal mulanya penduduk Jabodetabek membludak. Setelah melihat temannya punya mobil atau motor, mereka pun mulai menyicil mobil atau motor demi gaya hidup ibu kota. Dan akhirnya terjadilah kemacetan itu :-) Berawal lulus dari kampus, berujung menjadi macet.

Kemudian faktor penyebab padatnya Jabodetabek adalah banyaknya orang - orang yang dari luar Jakarta yang merantau dan mengadu nasib di Jakarta, istilahnya Urbanisasi. Anda lihat setiap lebaran Jakarta sepi dan jalanan lengang. Jawabannya karena banyak yang pulang kampung. Dan ketika mulai arus balik, anda lihat orang - orang ini balik ke Jakarta biasanya membawa minimal satu orang baru, yang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta.

Jumlah pendatang dari luar Jakarta ini terjadi setiap tahun. Skemanya pun sama dengan para freshgraduate dari kampus tadi, khususnya pendatang yang masih bujang. Setelah mendapat pekerjaan yang menarik, para pendatang ini awalnya tinggal di rumah kost kemudian membeli rumah dan tinggal di Jabodetabek dengan keluargnya. Dan mulailah jumlah penduduk Jabodetabek bertambah dan membludak setiap tahunnya.

Jadi...Setelah membaca ulasan di atas maka sebenarnya sudah bisa diketahui akar permasalahan macet di Jakarta, yaitu sumber mata pencaharian atau lapangan pekerjaan yang terlalu banyak berpusat di Jakarta atau Jabodetabek.

Silahkan share informasi ini agar masyarakat tahu bahwa Jakarta tidak selalu indah seperti yang ditayangkan di media - media.

No comments:

Post a Comment