Berbagi Informasi

Merakyat Saat Kampanye, Memerintah Saat Berkuasa

Mendengar kata politik membuat kita tersenyum-senyum sendiri karena lucu melihat tingkah pelaku politik tapi juga kadang lelah seperti dalam perjalanan yang tak pernah berujung. Setiap ada pemilihan baik wakil rakyat, kepala daerah maupun kepala pemerintah selalu identik dengan janji manis yang bernama kampanye. Tiada politik tanpa kampanye. Setiap kegiatan politik pasti ada kampanye. Apalagi partai politik yang punya uang banyak, kampanyenya sampai ke mana-mana.

Entah sudah berapa kali kita melihat seseorang atau orang-orang yang tadinya tidak pernah terlihat belanja di pasar tradisional tiba-tiba kita sudah melihat di berita orang-orang ini belanja di pasar tradisional. Bukan cuman belanja, mereka bahkan menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan para pedagang di pasar tradisional. Dan ternyata itulah salah satu ciri khas kampanye politik.

Merakyat Saat Kampanye, Memerintah Saat Berkuasa

Kampanye politik sejatinya gampang ditebak. Sekali lagi kita tulis; kampenye politik itu gampang ditebak, bahkan lebih gampang dari pada membuat SIM C. Kampanye politik itu manis di depan, asem di tengah, pahit di belakang. Saat kampanye para elit politik mengunjungi semua orang dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Kunjungan sana sini, menanyakan keluhan sana sini, menanyakan kekurangan sana sini yang mana bisa digunakan sebagai senjata untuk modal program kampanye mereka.

Kita meminta apapun bahkan akan dikasih oleh para elit politik yang sedang mencari dukungan tersebut. Maksudnya permintaan dalam batas yang wajar, bukan permintaan yang aneh-aneh. Mereka mencari dukungan dengan cara kampanye yang kadang kelewatan dan seolah gampang sekali menyebut program ini itu tanpa memikirkan apakah program mereka akan berjalan atau tidak, yang penting menarik perhatian masyarakat yang dijadikan target untuk memilih mereka.


Dan sayangnya tidak semua masyarakat mencatat atau menulis janji-janji para elit politk tersebut. Ketika para elit politik ini menduduki posisi atau jabatan tertentu mereka seolah lupa dengan janji-janji mereka. Ketika mereka mempunyai posisi atau kekuasaan, pergerakan mereka menjadi lebih susah diikuti. Mereka seolah-olah menjauh dari masyarakat yang dulu mereka dekati saat kampanye.

Itulah ciri khas politik. Ketika telah memegang tampuk kekuasaan maka tujuan partai menjadi lebih utama dari pada tujuan memenuhi janji-janji manis saat kampanye dulu. Mereka mulai sibuk dengan elit-elit politik tingkat atas. Mereka mulai sibuk mengejar dan mengerjakan proyek sana sini untuk mengumpulkan pundi-pundi pribadi dan partai. Hal ini terlihat dari banyaknya korupsi sana sini.

Tidak perlu menunggu lama. Setiap pemerintahan baru selalu ada kasus korupsi. Dan lucunya kasus korupsi ini tidak pernah berhenti. Bahkan terus terjadi dari satu pemerintahan ke tampuk pemerintahan yang lainnya. Dulu semua orang mungkin berpikir cukuplah mantan presiden Suharto sebagai koruptor, tapi kenyataannya sampai sekarang korupsi malah merajalela. Nasib Indonesiaku.

No comments:

Post a Comment