Berbagi Informasi

Sumber Air Di Pulau Kadatua

Kebutuhan akan air tawar di pulau Kadatua merupakan salah satu hal yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan masyarakat Kadatua. Sumber air tawar di pulau Kadatua saat ini hanya terdapat di beberapa desa saja. Dahulu sebelum tahun 1997, sumber air tawar yang ada di pulau ini hanya terdapat di sumur Uwemaasi, Desa Uwemaasi yang merupakan pemekaran dari Desa Kaofe.

Pada saat itu sumur Uwemaasi hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Desa Kaofe. Saat ini Desa Kaofe telah mekar menjadi tiga desa yaitu Desa Kaofe, Desa Uwemaasi, dan Desa Marawali. Pemekaran desa ini terjadi pada awal tahun 2000-an yang kemudian diikuti juga dengan pemekaran desa-desa lain sehingga pulau Kadatua kemudian mekar menjadi Kecamatan Kadatua, setelah sekian lama masuk dalam wilayah Kecamatan Batauga.

Selain Desa Kaofe, desa lain yang cukup dekat jaraknya dengan sumur Uwemaasi yaitu Desa Lipu. Pada saat itu beberapa warga Desa Lipu mengambil air dari sumur ini. Para siswa SMP yang tinggal di Desa Lipu bahkan punya kebiasaan unik dan mengagumkan. Pada saat itu SMP yang ada di pulau Kadatua hanya satu dan terletak di ujung Desa Kaofe. Umumnya para siswa SMP dari Desa Lipu yang ke sekolah biasanya membawa jerigen pada pagi hari dan menyimpan jerigen ini di sekitar sumur Uwemaasi. Pada saat pulang sekolah mereka akan singgah di sumur ini dan mengisi jerigen dengan air tawar untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing. Pergi mencari ilmu, pulang membawa ilmu dan air minum. Istilahnya sekali mendayung tiga dua pulau terlampaui.

Pada kurun waktu sekitar 1997 atau 1998 warga Desa Lipu berhasil menorehkan sejarah baru dalam penemuan air tawar di Pulau Kadatua. Mereka berhasil menemukan sumber air tawar di desa mereka. Penemuan air tawar di Desa Lipu ini berkat kerja keras masyarakat Lipu yang menggali sumur di daerah ini. Menurut informasi dari penduduk sekitar, penggalian sumur ini memakan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya diperoleh air tawar. Kedalaman sumur air tawar di Lipu ini diperkirakan sekitar 60-70 meter. Kedalaman sumur ini sesuai dengan kontur desa Lipu yang berada di daerah ketinggian, yang mana diperkirakan 6-7 kali kontur tanah sumur Uwemaasi.

Pada saat itu desa-desa lain yang tidak mempunyai sumur air tawar seperti Desa Waonu, Desa Kapoa, dan Desa Banabungi umumnya mendapatkan air tawar dengan cara menampung air hujan. Karena itu tidak heran banyak bak-bak penampung air hujan di rumah warga. Khusus untuk Desa Banabungi, karena posisi desa ini yang terletak dengan Baubau, maka sebagian warga mengambil air tawar di Topa (wilayah Baubau yang terdekat dengan pulau Kadatua).

Cerita di atas hanyalah sedikit penggalan kisah kondisi sumber air tawar di Kadatua. Saat ini telah ada lagi sumur air tawar yang terletak di Desa Uwemaasi. Di sumur ini telah dilengkapi dengan bak penampung air yang sangat besar. Dari bak penampung ini kemudian dibuatkan pipa yang mengalirkan air ke beberapa area di dekat rumah warga. Hal ini membuat warga tidak perlu lagi mengambil air di sumur. Masyarakat hanya perlu mendatangi titik atau spot kran air yang terdekat dengan rumah mereka masing-masing. Rencana ke depan pipa air ini akan di sambungkan langsung ke rumah warga melalui mekanisme pembayaran meteran air sesuai pemakaian.

No comments:

Post a Comment