Sharing The Information

Potensi CBM Di Indonesia

CBM (Coalbed Methane) atau yang biasa dikenal dengan GMB (Gas Metana Batubara) merupakan salah satu sumber energi dengan jumlah potensi yang sangat besar di Indonesia. Potensi CBM yang ada di Indonesia yaitu sebesar 453 TSCF (trillions of standard cubic feet).

TSCF atau TCF (trillion cubic feet) merupakan satuan untuk mendeskripsikan volume gas. Dalam pelajaran fisika, volume biasanya mempunyai satuan m3. Jika di konversi ke dalam m3, maka 1 TSCF=28316846592 m3. Jadi ada sedikit bayangan berapa potensi CBM yang sebesar 453 TSCF itu.
Potensi CBM di Indonesia. Gambar: BPMigas 2008.

Secara detail potensi CBM yang ada di Indonesia yaitu:

1. Cekungan Sumatera Tengah 52.50 TCF
2. Cekungan Ombilin 0.5 TCF
3. Cekungan Sumatera Tengah 183 TCF
4. Cekungan Bengkulu 3.6 TCF
5. Cekungan Barito 101.6 TCF
6. Cekungan Pasir dan Asem Asem 3 TCF
7. Cekungan Kutai 80.4 TCF
8. Cekungan Berau 8.4 TCF
9. Cekungan Tarakan Utara 17.5 TCF
10. Cekungan Sulawesi Selatan Barat 2 TCF
11. Cekungan Jatibarang 0.8 TCF

Dari daftar cekungan di atas terlihat bahwa potensi CBM banyak terdapat di daerah Sumatera dan Kalimantan. Hal ini tidak lepas dari banyaknya batubara yang tersebar di dua daerah tersebut. Gambar sebaran potensi CBM di atas diambil penulis dari salah satu presentasi BPMigas, 2008 dan sumber datanya berasal dari Advanced Resources International, Inc.

Melihat potensi CBM yang begitu besar, pemerintah RI melalui Kementerian ESDM pada tahun 2008 mulai menawarkan blok-blok CBM di Indonesia. Beberapa perusahaan migas pun tertarik dengan proyek ini dan melakukan tanda tangan kontrak atas blok CBM yang ditawarkan tersebut.

Puncak ketertarikan dan booming CBM di Indonesia berlangsung hingga tahun 2013. Pada tahun itu perusahaan-perusahaan migas dari skala kecil hingga besar berlomba-lomba untuk mendapatkan blok CBM yang ada di Indonesia.

Pada akhir tahun 2014 hingga sekarang proyek CBM di Indonesia seperti tenggelam. Badai anjloknya harga minyak dunia turut mempengaruhi langkah investor migas termasuk investasi CBM. Selain itu masalah teknologi untuk memecahkan masalah permeabilitas batubara yang sangat kecil menjadi pekerjaan yang belum terselesaikan.

Tingginya biaya investasi CBM rupanya tidak sebanding dengan hasil yang diharapkan. Apalagi ada masa tunggu produksi setelah proses pengeboran sumur. Jika pada gas alam langsung mengalir, maka CBM harus menunggu sekitar 1-2 tahun untuk proses dewatering terlebih dahulu.

Mimpi indah untuk mendapatkan produksi yang sangat besar ternyata tertahan oleh kenyataan bahwa produksi CBM yang ada di Indonesia tidaklah persis sama seperti proyek lapangan-lapangan CBM yang ada di luar Indonesia.

Perbedaan umur batubara, tebal lapisan, kondisi lapangan membuat sebagian lapangan CBM di Indonesia membutuhkan teknologi yang lebih baik agar gas metana bisa mengalir lancar sesuai dengan besarnya kandungan gas yang ada dalam batubara tersebut.

Mengenal CBM

Tanya Jawab Tentang CBM

No comments:

Post a Comment